Tuesday, November 27, 2012
mungkin kita tak pernah akan saling jujur satu sama lain secara langsung, namun kita telah berucap tentang kejujuran itu_sebetulnya
bukan persoalan tubuh ataupun emosi, lebih dari segalanya, suasana yang berjalan ialah kata yang tak ternasbihkan antara kita
mungkin, hanya dalam kejujuran yang bias itu kita bisa saling membasuhkan air ke muka kita, dan saling menatap satu sama lain seraya memejam untuk sekejap dan seketika kita berada dalam satu tubuh yang sama
untuk [F]_yang telah sangat memperlakukanku dengan begitu agungnya: argentina, austria, bandung, travelogue
selalu penuh peluk untukmu
Thursday, July 19, 2012
ACTING COURSE STB KE-22
Studiklub Teater Bandung menyelenggarakan Acting Course angkatan ke-22
Pendaftaran tanggal 19 Juli 2012 - 31 Agustus 2012
Tes tanggal 01 September 2012
Pengumuman tanggal 02 September 2012
Biaya pendaftaran Rp 50.000,00 (mendapatkan buku Melakoni Teater)
Pendaftaran dapat langsung ke sekretariat (GK Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1) atau melalui inbox (dengan alamat email: zhukhie@yahoo.com) dengan mencantumkan identitas lengkap dan nomor telepon yang dapat dihubungi
Acting Course akan dilaksanakan di Gedung Kesenian Rumentang Siang selama dua bulan.
Monday, October 25, 2010
tersedak
Perpasangan selalu ada, ketika Adam diciptakan, Hawa pun menyertainya. Namun toh selalu ada perpisahan ketika mereka terjegal di bukit, terpisah antara Safa dan Marwah.
Begitupun denganku. Menyulam jala emas di tanah kutukan, mengais-ngais bangkai di reruntuhan peradaban.
Aku ingin menjadi(MU). Menjadi diri(MU). Menentukan sekehendak dengan sesukaku. Menjadikan(MU) hanya AKU. Namun mentari kecil ini tak cukup besar, tak cukup kuat, tak cukup terang menerangi(MU), menerangi KITA. Tersisa adalah pilihan(MU). Kau tawarkan dan kau lemparkan pula. Tidakkah ini bukan bulutangkis?
Mungkinkah ia kembali menyapaku dan menyalamiku lagi?
Biru. Cinta. Lenyap. LIRIH....
Perpasangan selalu ada, ketika Adam diciptakan, Hawa pun menyertainya. Namun toh selalu ada perpisahan ketika mereka terjegal di bukit, terpisah antara Safa dan Marwah.
Begitupun denganku. Menyulam jala emas di tanah kutukan, mengais-ngais bangkai di reruntuhan peradaban.
Aku ingin menjadi(MU). Menjadi diri(MU). Menentukan sekehendak dengan sesukaku. Menjadikan(MU) hanya AKU. Namun mentari kecil ini tak cukup besar, tak cukup kuat, tak cukup terang menerangi(MU), menerangi KITA. Tersisa adalah pilihan(MU). Kau tawarkan dan kau lemparkan pula. Tidakkah ini bukan bulutangkis?
Mungkinkah ia kembali menyapaku dan menyalamiku lagi?
Biru. Cinta. Lenyap. LIRIH....
seorang yang pergi
mungkin belum terbiasa saja dengan kebaruan ini
apakah akan memberi arti sedikit kenangan itu? tentulah aku bukan lagi penikmat kesedihan, namun hanya akan menjadi pengagum, ahhh pesakitan pun kadang bisa berpikir logis
entah....
kecewa, pilu, khianat, perih, senyum, jujur, cinta (dua kata terakhirini) akan selalu muncul dalam otakku, muncul untuk dia, yang sungguh aku tak bisa mencecarnya. Tak mungkin pula aku menghardiknya, ia terlampau baik untuk itu, namun sungguh penghujam sejati, penghujam kesakitan yang mahir.
berdiri dalam limbung diantara angin dan malam, memejam mengingat malam itu, malam saat kulumat ludahmu dan sekarang kau cerap kembali ludahmu dengan sungguh manis, manis bagimu.
bahkan akupun tak tahu apa yang kaulakukan saat ini, mungkinkah tersenyum atau manatap sendu dengan kerinduan yang menggila
sepekan berlalu kita bersama, melakukan sebuah perjalanan kecil dan berencana melakukan perjalanan panjang bersama, ahhh kau terlampau letih untuk meneruskan perjalanan kita, padahal separuhnya pun belum
kupikir lebih indah jika saat itu kau menolak ajakan perjalananku dan hanya menanyakan perjalananku seorang diri saja melalui pesan-pesanmuu di malam hari, sepertinya akan memberi bentuk lain untuk menggilamu
akupun tak tahu harus menuliskan apa lagi.
sungguh kau tak berkata manis namun ucapanmu memabukkanku
kau memang tak merayu namun penuh rayuan
pun kau tak menggombal, namun kata-katamu penuh cita-cita
dan aku terpedaya
limbung dalam sadar, mati dalam tangis
mungkin belum terbiasa saja dengan kebaruan ini
apakah akan memberi arti sedikit kenangan itu? tentulah aku bukan lagi penikmat kesedihan, namun hanya akan menjadi pengagum, ahhh pesakitan pun kadang bisa berpikir logis
entah....
kecewa, pilu, khianat, perih, senyum, jujur, cinta (dua kata terakhirini) akan selalu muncul dalam otakku, muncul untuk dia, yang sungguh aku tak bisa mencecarnya. Tak mungkin pula aku menghardiknya, ia terlampau baik untuk itu, namun sungguh penghujam sejati, penghujam kesakitan yang mahir.
berdiri dalam limbung diantara angin dan malam, memejam mengingat malam itu, malam saat kulumat ludahmu dan sekarang kau cerap kembali ludahmu dengan sungguh manis, manis bagimu.
bahkan akupun tak tahu apa yang kaulakukan saat ini, mungkinkah tersenyum atau manatap sendu dengan kerinduan yang menggila
sepekan berlalu kita bersama, melakukan sebuah perjalanan kecil dan berencana melakukan perjalanan panjang bersama, ahhh kau terlampau letih untuk meneruskan perjalanan kita, padahal separuhnya pun belum
kupikir lebih indah jika saat itu kau menolak ajakan perjalananku dan hanya menanyakan perjalananku seorang diri saja melalui pesan-pesanmuu di malam hari, sepertinya akan memberi bentuk lain untuk menggilamu
akupun tak tahu harus menuliskan apa lagi.
sungguh kau tak berkata manis namun ucapanmu memabukkanku
kau memang tak merayu namun penuh rayuan
pun kau tak menggombal, namun kata-katamu penuh cita-cita
dan aku terpedaya
limbung dalam sadar, mati dalam tangis
Sunday, September 12, 2010
sederhana
Aku, lelaki sederhana dengan tubuh sederhana dan pkiran sederhana, pun penuh kesederhanaan untuk dapat menerjemahkanmu dengan sempurna. Tak perlulah membuatmu terbahak, toh keterbahakanmu tak mengisyaratkan kemestian kebersamaan.
Kesederhanaan ini pula yang menjadikanku begitu kerdil. Aku, dengan kekerdilan dan kesederhanaan ini terlampau lancang untuk menyempurnakanmu, terlebih dengan kerajaan kecilku yang mungkin semakin kecil dalam tafsiranmu. Entah, kerajaan ini akan tetap menjadi kecil atau sedikit berbentuk. Aku pun hilang dalam bentuk yang tak terbantahkan.
Aku, lelaki sederhana dengan tubuh sederhana dan pkiran sederhana, pun penuh kesederhanaan untuk dapat menerjemahkanmu dengan sempurna. Tak perlulah membuatmu terbahak, toh keterbahakanmu tak mengisyaratkan kemestian kebersamaan.
Kesederhanaan ini pula yang menjadikanku begitu kerdil. Aku, dengan kekerdilan dan kesederhanaan ini terlampau lancang untuk menyempurnakanmu, terlebih dengan kerajaan kecilku yang mungkin semakin kecil dalam tafsiranmu. Entah, kerajaan ini akan tetap menjadi kecil atau sedikit berbentuk. Aku pun hilang dalam bentuk yang tak terbantahkan.
Wednesday, July 07, 2010
kelima harimau
setiap aku menatapmu, hanya tergambar darah yang menderas keluar dari lehermu, entah, hanya darah yang tampak dari wajahmu
kau pun tak bisa menjadikan kebesaranmu sebagai sesuatu yang penuh. kau hanya mampu mengeluh, hanya mampu berceloteh, hanya mampu mengadu, kau pun tak bisa berbuat sesuatu untuk merubah hidupmu sekalipun, kau tak pernah bisa
setiap hari kau hanya bermain-main dengan vagina, hanya mengais-ngais kelima harimau didikanmu itu,
kebanggan yang kau agungkan hanyalah kepatuhan dari kelima didikanmu itu, kau pun bahkan tak mengerti memulangkan mereka kembali, kau hanya memanjakan mereka dengan doa-doamu yang kau dapat dari lelaki bodoh yang memuja asap
kau pun tak bisa membuatku bangga
setiap aku melihat pagi, aku melihat energi yang menyala untuk segera menghabisi, bukan hanya akan kulipat dengan sangat kecil tiap bagian tubuhmu itu, namun akan aku tuangkan darahmu sebagai hidangan babi di kubangan jadah, kau terlahir sebagai kutuk bagiku
mengapa kau begitu dungu dan aku begitu ingin membunuhmu dengan segera
setiap aku menatapmu, hanya tergambar darah yang menderas keluar dari lehermu, entah, hanya darah yang tampak dari wajahmu
kau pun tak bisa menjadikan kebesaranmu sebagai sesuatu yang penuh. kau hanya mampu mengeluh, hanya mampu berceloteh, hanya mampu mengadu, kau pun tak bisa berbuat sesuatu untuk merubah hidupmu sekalipun, kau tak pernah bisa
setiap hari kau hanya bermain-main dengan vagina, hanya mengais-ngais kelima harimau didikanmu itu,
kebanggan yang kau agungkan hanyalah kepatuhan dari kelima didikanmu itu, kau pun bahkan tak mengerti memulangkan mereka kembali, kau hanya memanjakan mereka dengan doa-doamu yang kau dapat dari lelaki bodoh yang memuja asap
kau pun tak bisa membuatku bangga
setiap aku melihat pagi, aku melihat energi yang menyala untuk segera menghabisi, bukan hanya akan kulipat dengan sangat kecil tiap bagian tubuhmu itu, namun akan aku tuangkan darahmu sebagai hidangan babi di kubangan jadah, kau terlahir sebagai kutuk bagiku
mengapa kau begitu dungu dan aku begitu ingin membunuhmu dengan segera
Tuesday, July 06, 2010
cerita kecil
:'untuk gadis kecil yang kutemui di sebuah lereng yang bising'
matamu terlalu kecil untuk menafsirkan kebesaran ceritaku. kau, dengan mata kecilmu, aku tahu, kau berusaha menerjemahkan semua yang kau saksikan: tubuhku secara utuh. ahhh kau terlalu kecil untuk mengetahui semuanya, tentu belum bisa paham dengan ceritaku (begitupun denganku)
apa yang ingin kau tafsirkan, nak? mulutmu mengunyah-ngunyah seakan hendak melecutkan kata dari letupan mulutmu yang bulat dan tipis. matamu terkadang berpaling saat aku menatapmu kembali, aku tahu, kau mungkin sengaja merekatkan ikatan rambutmu untuk menarikku, pun tanganmu yang menawarkan cerita baru bagiku, tapi aku sudah jauh, terlalu jauh, nak....
"tengoklah kiri-kananmu, namun tetap melecut gagah ke depan, lurus menantang tegap dengan lantang!", ucapmu, "hanya sesekali, agar kau tak terjerembab, tataplah dengan matamu yang menyala."
namun aku terperosok....
aku melihatmu tetap memandangiku dengan mata kecilmu yang bulat, sangat penuh, menyaksikanku yang semakin jauh
kau, kelak, dengan matamu yang kecil akan membuat cerita besarmu sendiri....
[di sebuah tempat yang damai, di tengah kebisingan orang-orang]
:'untuk gadis kecil yang kutemui di sebuah lereng yang bising'
matamu terlalu kecil untuk menafsirkan kebesaran ceritaku. kau, dengan mata kecilmu, aku tahu, kau berusaha menerjemahkan semua yang kau saksikan: tubuhku secara utuh. ahhh kau terlalu kecil untuk mengetahui semuanya, tentu belum bisa paham dengan ceritaku (begitupun denganku)
apa yang ingin kau tafsirkan, nak? mulutmu mengunyah-ngunyah seakan hendak melecutkan kata dari letupan mulutmu yang bulat dan tipis. matamu terkadang berpaling saat aku menatapmu kembali, aku tahu, kau mungkin sengaja merekatkan ikatan rambutmu untuk menarikku, pun tanganmu yang menawarkan cerita baru bagiku, tapi aku sudah jauh, terlalu jauh, nak....
"tengoklah kiri-kananmu, namun tetap melecut gagah ke depan, lurus menantang tegap dengan lantang!", ucapmu, "hanya sesekali, agar kau tak terjerembab, tataplah dengan matamu yang menyala."
namun aku terperosok....
aku melihatmu tetap memandangiku dengan mata kecilmu yang bulat, sangat penuh, menyaksikanku yang semakin jauh
kau, kelak, dengan matamu yang kecil akan membuat cerita besarmu sendiri....
[di sebuah tempat yang damai, di tengah kebisingan orang-orang]
energi yang merepih
jika bertanya mengapa aku menuliskan energi, lebih pada energi ketika aku menulis ini semua. energi yang membuatku masih menulis, bukan amarah, bukan semacam dendam sesungguhnya, jika masih pula tak paham, sudah, cukup saja membaca (jika berkenan), jika tidak berkenan, tak perlu dilanjutkan, pun tak perlu mengomentari jika tak menarik
sekali lagi, ini hanya persoalan energi, aku kembali berusaha mengumpulkan energi yang merepih, aku persilakan untuk menghardik semaunya karena memang kita berbeda, kesamaan bukanlah sesuatu yang absolut, kemutlakan ada pada cara pandang dan pola laku, konsistensi yang berlaku
aku hanya mengumpulkan kembali energiku yang tersita, yang teronggok entah di mana, yang telah menempuh perjalanan tragisnya selama bertahun-tahun, apakah kekeliruan yang muncul jika aku kembali mencarinya dengan meletakkan kembali jejakku pada jejak-jejak lamaku? aku hanya mengumpulkannya kembali, agar tersusun rapi dan kukemas dengan baik di atas lemari.
keniscayaan bukanlah penyindiran, aku hanya berusaha sendiri, mengumpulkan energi yang merepih, sepanjang jalannya yang tragis
suatu saat, aku akan memantiknya dengan cantik, entah kapan....
jika bertanya mengapa aku menuliskan energi, lebih pada energi ketika aku menulis ini semua. energi yang membuatku masih menulis, bukan amarah, bukan semacam dendam sesungguhnya, jika masih pula tak paham, sudah, cukup saja membaca (jika berkenan), jika tidak berkenan, tak perlu dilanjutkan, pun tak perlu mengomentari jika tak menarik
sekali lagi, ini hanya persoalan energi, aku kembali berusaha mengumpulkan energi yang merepih, aku persilakan untuk menghardik semaunya karena memang kita berbeda, kesamaan bukanlah sesuatu yang absolut, kemutlakan ada pada cara pandang dan pola laku, konsistensi yang berlaku
aku hanya mengumpulkan kembali energiku yang tersita, yang teronggok entah di mana, yang telah menempuh perjalanan tragisnya selama bertahun-tahun, apakah kekeliruan yang muncul jika aku kembali mencarinya dengan meletakkan kembali jejakku pada jejak-jejak lamaku? aku hanya mengumpulkannya kembali, agar tersusun rapi dan kukemas dengan baik di atas lemari.
keniscayaan bukanlah penyindiran, aku hanya berusaha sendiri, mengumpulkan energi yang merepih, sepanjang jalannya yang tragis
suatu saat, aku akan memantiknya dengan cantik, entah kapan....
Sunday, May 23, 2010
singgah dalam gagah
Ketika aku mengingat malam-malamku, kerap kau-kalian muncul dan membuka baju tidurku. Kau ah atau kalian (sebab begitu banyak yang aku maksud): [y], [r], [f], apakah kerap mengingat purnama yang kita pintal bersama dalam lipatan cahayanya?
Kau-kalian yang telah kusinggahi, pun kugagahi, apa masih menimpan cerita itu? Atau melupakannya sama seperti dongeng sewaktu ibu kita menceritakannya di waktu kita kecil dan terbatas mengingat semua?
Sebuah kosong mungkin selalu mendatangiku. Entah, apa kalian dikunjunginya pula atau tidak, atau bahkan kalian mengenyahkannya, mungkin mengisinya dengan cerita kosong lainnya yang lebih menarik bagi kalian. Tubuh-tubuh itu, wajah-wajah itu_keindahan itu apakah berkunjung dalam hening dan pergi sesunyi-sunyinya? Seperti sunyinya saat kau-kalian menghempaskan napas panjang kelelahan selepas bercinta? Sunyi hampir tak ada suara....
Untuk [y], [r], [f], mungkin ada baiknya kita kembali saling menjerat
Untuk [a], [i], [h], dan [h] juga, terimalah jeratku, atau jeratlah aku jika kau-kalian mau
Dengan bersedia, aku berminat dijerat oleh kalian {[y], [r], [f], [h], [a], [i], [h]}
aku tak akan mengundang kalian dalam catatanku ini, cukuplah kalian membacanya dengan sengaja (jika bisa)
mungkin kalian membacanya? aku berharap, dan kau-kalian mengetahui dan menjawab jeratanku ini
Ketika aku mengingat malam-malamku, kerap kau-kalian muncul dan membuka baju tidurku. Kau ah atau kalian (sebab begitu banyak yang aku maksud): [y], [r], [f], apakah kerap mengingat purnama yang kita pintal bersama dalam lipatan cahayanya?
Kau-kalian yang telah kusinggahi, pun kugagahi, apa masih menimpan cerita itu? Atau melupakannya sama seperti dongeng sewaktu ibu kita menceritakannya di waktu kita kecil dan terbatas mengingat semua?
Sebuah kosong mungkin selalu mendatangiku. Entah, apa kalian dikunjunginya pula atau tidak, atau bahkan kalian mengenyahkannya, mungkin mengisinya dengan cerita kosong lainnya yang lebih menarik bagi kalian. Tubuh-tubuh itu, wajah-wajah itu_keindahan itu apakah berkunjung dalam hening dan pergi sesunyi-sunyinya? Seperti sunyinya saat kau-kalian menghempaskan napas panjang kelelahan selepas bercinta? Sunyi hampir tak ada suara....
Untuk [y], [r], [f], mungkin ada baiknya kita kembali saling menjerat
Untuk [a], [i], [h], dan [h] juga, terimalah jeratku, atau jeratlah aku jika kau-kalian mau
Dengan bersedia, aku berminat dijerat oleh kalian {[y], [r], [f], [h], [a], [i], [h]}
aku tak akan mengundang kalian dalam catatanku ini, cukuplah kalian membacanya dengan sengaja (jika bisa)
mungkin kalian membacanya? aku berharap, dan kau-kalian mengetahui dan menjawab jeratanku ini
Tuesday, May 18, 2010
ngabudi tai
inilah yang kemudian aku rasakan dan bunda mengucapkannya: "Tuh, kan, jelema nu kitu mah ngadon ngabudi tai! Maneh bebelaan sapopoe, ti isuk nepi peuting ngurus nu kitu, nepi ka awak ruksak, tapi mana perhatianana ti ...... euweuh pan. Ngadon diperes weh tanaga, meusmeus nalangan heula jang ieu itu, mana penghargaanana tinu ngaran ...... teh. Euweuh penghargaanana pisan, teu ngahargaan ka maneh geningan, ngan meres tanaga weh hungkul. Mikir sugan mah maneh teh."
Maafkan aku bunda, aku kerap membangkang mengenai yang satu ini. benarlah kata-katamu, meski aku tak pernah sedikitpun bercerita mengenai suka-duka mengerjakan ini dan bersama-sama dengan ...... bekerja dalam kegiatan, meski aku tak pernah memuji dia di hadapanmu, terlebih menjelekkannya, tapi kau tahu segalanya yang menimpaku, meski aku tak berbicara sepatah katapun.
Memang hese ari sulit ati belah bayah mah, da ngaranna ge adat kakurung ku iga, jadi geus teu bisa dirubah.
Akhir-akhir ini banyak sekali yang kulewati, aku benar-benar dikhianati dan disakiti.
Ke mana perginya? Ketika kami-kami berjuang mempertahankan dan membangun, ketika itu pula seenaknya pergi dengan tanpa pertanggungjawaban sedikitpun.
Akulah akhirnya yang harus menanggung semua: MENGAIS-NGAIS TANAH KUTUKAN, MENGUNYAH BANGKAI DI PERADABAN.
Siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam cerita ini????
Semestinya bukan aku, sudah tentu.
Namun aku bersyukur, setidaknya aku tetap membuat bundaku bangga, dengan maju sebagai penanggung jawab (msekipun aku bukan penanggung jawab) namun aku tetap bertanggung jawab. Aku bangga, aku bangga membuat bundaku bangga karena memang bunda TIDAK MENGAJARKANKU UNTUK MENJADI SEORANG PECUNDANG, MENJADI SEORANG PENGECUT.
KONSISTENSI DAN TANGGUNG JAWAB adalah DARAH MERAHKU!!!!!
inilah yang kemudian aku rasakan dan bunda mengucapkannya: "Tuh, kan, jelema nu kitu mah ngadon ngabudi tai! Maneh bebelaan sapopoe, ti isuk nepi peuting ngurus nu kitu, nepi ka awak ruksak, tapi mana perhatianana ti ...... euweuh pan. Ngadon diperes weh tanaga, meusmeus nalangan heula jang ieu itu, mana penghargaanana tinu ngaran ...... teh. Euweuh penghargaanana pisan, teu ngahargaan ka maneh geningan, ngan meres tanaga weh hungkul. Mikir sugan mah maneh teh."
Maafkan aku bunda, aku kerap membangkang mengenai yang satu ini. benarlah kata-katamu, meski aku tak pernah sedikitpun bercerita mengenai suka-duka mengerjakan ini dan bersama-sama dengan ...... bekerja dalam kegiatan, meski aku tak pernah memuji dia di hadapanmu, terlebih menjelekkannya, tapi kau tahu segalanya yang menimpaku, meski aku tak berbicara sepatah katapun.
Memang hese ari sulit ati belah bayah mah, da ngaranna ge adat kakurung ku iga, jadi geus teu bisa dirubah.
Akhir-akhir ini banyak sekali yang kulewati, aku benar-benar dikhianati dan disakiti.
Ke mana perginya? Ketika kami-kami berjuang mempertahankan dan membangun, ketika itu pula seenaknya pergi dengan tanpa pertanggungjawaban sedikitpun.
Akulah akhirnya yang harus menanggung semua: MENGAIS-NGAIS TANAH KUTUKAN, MENGUNYAH BANGKAI DI PERADABAN.
Siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam cerita ini????
Semestinya bukan aku, sudah tentu.
Namun aku bersyukur, setidaknya aku tetap membuat bundaku bangga, dengan maju sebagai penanggung jawab (msekipun aku bukan penanggung jawab) namun aku tetap bertanggung jawab. Aku bangga, aku bangga membuat bundaku bangga karena memang bunda TIDAK MENGAJARKANKU UNTUK MENJADI SEORANG PECUNDANG, MENJADI SEORANG PENGECUT.
KONSISTENSI DAN TANGGUNG JAWAB adalah DARAH MERAHKU!!!!!
Friday, April 30, 2010
meruhkan kerajaan
Mungkin melalui sedikit tulisan ini akan sedikit pula lebih terkendali emosiku.
Sungguh susah membangun kerajaan meskipun kecil. Pengorbanan, semangat_gagasan itulah yang penting. Kami berjuang mengupayakan sebuah tekad, kebersamaan, dan semangat.
Semoga pengupayaan ini tak sekedar berujung tepuk tangan atau senyum pujian. Lebih dari itu, ruh dan darah yang mereka alirkan adalah nyawa.
Mungkin melalui sedikit tulisan ini akan sedikit pula lebih terkendali emosiku.
Sungguh susah membangun kerajaan meskipun kecil. Pengorbanan, semangat_gagasan itulah yang penting. Kami berjuang mengupayakan sebuah tekad, kebersamaan, dan semangat.
Semoga pengupayaan ini tak sekedar berujung tepuk tangan atau senyum pujian. Lebih dari itu, ruh dan darah yang mereka alirkan adalah nyawa.
jangaarrrrrrrrrrrrrrrr
Jumat ini jangar pisan. Mulai dari jadwal pentas ujug-ujug pindah gara-gara gedung dipake pajabat, ortu siswa komplen soal anaknya serapahku akan anaknya yang tak akan lulus (ya jelaslah anak bego plus malas gitu mana bisa lulus murni), tentang keadaan di tempat kerja, organisasi yang makin aneh, dan ahhhhhhhhhhhhhhhh aku sendirian lagi di rumah!!!!!!!!
somebody help me now!!! give me a hug.....
(ternyata ini tulisan pertamaku setelah 3 bulan, terlalu banyak yang kualami dan pikirkan hingga tak sempat mengunjungi catatan elektronik ini)
Jumat ini jangar pisan. Mulai dari jadwal pentas ujug-ujug pindah gara-gara gedung dipake pajabat, ortu siswa komplen soal anaknya serapahku akan anaknya yang tak akan lulus (ya jelaslah anak bego plus malas gitu mana bisa lulus murni), tentang keadaan di tempat kerja, organisasi yang makin aneh, dan ahhhhhhhhhhhhhhhh aku sendirian lagi di rumah!!!!!!!!
somebody help me now!!! give me a hug.....
(ternyata ini tulisan pertamaku setelah 3 bulan, terlalu banyak yang kualami dan pikirkan hingga tak sempat mengunjungi catatan elektronik ini)
Thursday, April 29, 2010
menjadi batu
apakah aku harus menuliskan sesuatu? entah,,,, aku sedang melipat hati, tak ingin berbagi tawa
semestinya aku mengakhiri sejak awal, apa yang kuperjuangkan sesungguhnya? apakah kemuliaan itu perlu? apakah kebersamaan itu penting? yang patut diperjuangkan adalah hak, bukan konspirasi, bukan kesepahaman, bukan komitmen, bukan pula kebersamaan
toh saat tiap-tiap kita mendera kekalutan, penat itulah yang meninabobokanmu, hanya menjadikan malam-malamku menjadi semakin menakutkan, penuh waswas dan ketidakpastian
masihkah harus kulanjutkan ini: MENJADI PRABU ATAU MENJADI BATU...!!
apakah aku harus menuliskan sesuatu? entah,,,, aku sedang melipat hati, tak ingin berbagi tawa
semestinya aku mengakhiri sejak awal, apa yang kuperjuangkan sesungguhnya? apakah kemuliaan itu perlu? apakah kebersamaan itu penting? yang patut diperjuangkan adalah hak, bukan konspirasi, bukan kesepahaman, bukan komitmen, bukan pula kebersamaan
toh saat tiap-tiap kita mendera kekalutan, penat itulah yang meninabobokanmu, hanya menjadikan malam-malamku menjadi semakin menakutkan, penuh waswas dan ketidakpastian
masihkah harus kulanjutkan ini: MENJADI PRABU ATAU MENJADI BATU...!!
Saturday, January 09, 2010
Angin pun sedikit memberi kehampaan. Aku masih juga menyelesaikan imajinasiku. Tersesak sesaat oleh imajiku sendiri_tentangmu yang kerap menyapaku dalam tiap basuhan kenangan, pun dalam bisingan shower yang menghantamku bertubi-tubi.
Selamat siang... [untukmu yang kerap kuselipkan dalam tiap lantunan tasbihku]
Selamat siang... [untukmu yang kerap kuselipkan dalam tiap lantunan tasbihku]
Wednesday, November 11, 2009
menyelesaikan
hmmmmm, pagi ini jam tujuh sudha mengejar matahari terbit, capekkkkkk,,,,,
saat tiba di cisarua, aku dan si ambon harus menyusuri kebun sosin dan alang-alang, lalu kami pun mesti menuruni bukit yang sangat terjal, aku terlebih dahulu tentu
hmmmm,,,, setelah itu, kami melanjutkan misi menuju pegunungan di arah pantura, naik bis, naik angkot, turun naik wuihhhh,,, melelahkan sekali
perjalanan yang sangat menghabiskan energi, namun sangat senaaanngggggg
cerita lucunya: mau dikasih duit malah pada kaburrrrr




hmmmmm, pagi ini jam tujuh sudha mengejar matahari terbit, capekkkkkk,,,,,
saat tiba di cisarua, aku dan si ambon harus menyusuri kebun sosin dan alang-alang, lalu kami pun mesti menuruni bukit yang sangat terjal, aku terlebih dahulu tentu
hmmmm,,,, setelah itu, kami melanjutkan misi menuju pegunungan di arah pantura, naik bis, naik angkot, turun naik wuihhhh,,, melelahkan sekali
perjalanan yang sangat menghabiskan energi, namun sangat senaaanngggggg
cerita lucunya: mau dikasih duit malah pada kaburrrrr




Sunday, November 08, 2009
Saturday, August 22, 2009
inilah yang mereka (pelajar, guru, dan masyarakat umum di Bandung-Jakarta)katakan mengenai pementasan LADANG PERMINUS.
Persiapan dan castingnya sangat baik dan proper, dialognya bisa enjoy untuk didengar dan dicerna sehingga membuat pementasannya enjoy utnuk ditonton, untuk saya pribadi, untuk segi pemilihan tema saya memang sangat suka dengan salah satu tema tentang pemberantasan korupsi dan sebagainya (Samuel Rizal, Artis).
Fabulous! kawan-kawan di pementasan berhasil menyajikannya dengan sangat apik dan memberi kesan bahwa hidup kita ini adalah sandiwara nyata dimana setiap orang adalah peran utamanya (0856---)
Bagus, tapi maaf ceritanya mungkin terllau berputar-putar maaf ya , tapi keseluruhan sudah bagus. (0833---)
Top dech pokonya (0898---)
Plotnya cukup terbnagun, tapi beberapa peran pembantu masih kaku dan kurang natural seperti masih menghapal, Cuma segitu maklum ga nonton sampe beres (0812---)
Ok, sangat bagus alangkah baiknya kalau dibuat film, akan sangat bermanfaat bagi guru sebagai media pembelajaran. (0817---)
Tema yang mengangkat masalah korupsi yang sudah mengkristal, bahkan sulit ditumpas sangat menarik bagi saya, ini merupakan gambaran negatif bagi kita semua tentang keadaan negara. Mengenai tampilan pementasan, mimik pelaku dll saya angkat jempol, saya belajar banyak hal ketika melihat pementasan tersebut khususnya mengenai teater, pokonya saluut deh moga sukses (0813---)
Pertunjukan teater Ladang Perminus menurut nsaya sudah hampir sempurna. Saya harap cerita dalam pertunjukannya lebih diperjelas. Thank’s. Semoga sukses (0852---)
Pementasan yang diselenggarakan ini sangat menarik dan menambah pengetahuan kita di bidang korupsi. Ditambah dengan akting orang-orang yang memerankannya, membuat ceritanya seperti sungguhan. Saya merasa senang telah diundang menonton Ladang Perminus. (0898---)
Mestinya pementasan ini dipertunjukkan di depan wakil rakyat... ada bagian-bagian yang ga jelas maksudnya (pramugari lagi ngobrol) tapi secara keseluruhan menarik banget buat ditonton (0812---)
Bagus, cukup menyentuh untuk berkaca diri dalam pembelajaran tentang kepribadian yang jujur dan bertanggung jawab untuk generasi penerus bangsa yang bersih dan bertransparansi dalam mengaudit keuangan negara, alangkah baiknyalagi acara seperti ini jangan hanya satu departemen saja. Terima kasih. (Renja, smkn 2 jakarta)
Agak monoton pas pergantian latar tempatnya (0857---)
Owh, mpentasnya keren abiez.. ini bisa dijadikan contoh buat anak-anak muda sekarang (0898---)
Pementasannya bagus, tapi saya kurang paham endingnya. Kenapa Kahar itu harus dimakankan di taman makam pahlawan? Apa karena dimakamkan di sana bisa disebut seorang pahlawan? (0229294---)
Bagus. Penghayatan maksimal. Karakter tokoh sesuai. Tetapi pengantar alur terlalu panjang, beberapa bloking membelakangi penonton sangat mengganggu (0815---)
Aktor, aktris bermain total. Skenario ok banget. Tata lampu panggung hebat! Kalo durasi persingkat tanpa mengurangi inti cerita akan lebih ok (0812---)
Perlu ada tambahan adegan agar amanat yang diusung mengalir dan terjaga, terutama penonton awam yang terbiasa disuguhi menu sinetron. (0852---)
Bagus. Saya kagum dengan pementasan malam itu. Pemain sangat menjiwai. Kostum pemain sangat pas. Tata ruang/setting sesuai adegan. (08152---)
Menurut Wy teaternya tuh bagus banget ngasih pesannya tuh bagus, udah gitu aneh aja gitu seorang koruptor bisa jadi pahlawan. Si Bapak Hidayatnya itu meskipun berperilaku baik tapi mempunyai simpanan gitu, jadi ngebuat si penonton tuh aneh gitu! Kahar pahlawan yang jasanya itu entah di mana tapi jadi pahlawan. (0857---)
Keren! Serius, sarat pesan. Saya yakin proses adaptasinya dan latihan memakan waktu lama. Tokoh Hidayat dan Kahar yang sangat menarik membuat cerita sangat hidup. Sukses dan hebat! (Tanti SMA 8)
Bagus dan mendidik. Pemeranan juga sudah cukup pas. (Decky, SMA 19 Bandung)
Bagus tapi kurang jelas waktu akhir ceritanya. (0856---)
Bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan bahwa kita dilarang melakukan perbuatan korupsi sekecil apapun. (0852---)
Sebuah pementasan yang membukakan kesadaran atas bobroknya pejabat, kegamangan manusia jujur yang diming-imingi upeti, dan perjuangan untuk tetap bekerja idealis dan bermoral. (0852---)
Bagus, menarik tepat ditonton oleh generasi penerus. Mudah-mudahan melalui pementasan teater itu generasi muda lebih tergugah nuraninya untuk di kemudian hari bila menjadi orang yang punya wewenang tidak menyalahgunakannya sebab cepat/lambat akan berending tragis. (0852---)
Teaternya cukup menarik. Semuanya dilakukan dengan sangat rapi. Tapi tempatnya kurang nyaman sehingga suara dari luar ruangan mengganggu konsentrasi untuk menyimak teater itu. (0898---)
Bagus, sangat baik untuk dijadikan mediator penyampaian penyuluhan budaya korupsi pada cikal bakal para calon pemimpin bangsa, namun menurut saya peran yang disajikan masih cukup kasar bagi pemikiran seorang pelajar, sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran tertentu untuk mencerna apa yang akan disampaikan pada pementasan teater itu sendiri sebagai mediator penyuluhan budaya korupsi. (0857---)
Ladang Perminus sangat top dan diacungi jempol karena berkat itu kita sadar akan kekayaan alam yang kita punya selama ini jadi incaran para koruptor. (0881---)
Asyik, segar. Semula kupikir bakal bete, gak taunya betah sampe selese. Apalagi musik ok! (0811---)
Pementasannya bagus. Walaupun temanya serius tapi tetap bisa disampaikan dengan menghibur. Cuma untuk pola pergantian settingnya mungkin bisa diberikan beberapa variasi supaya tidak kesannya terlalu teknis mengingat banyaknya pergantian setting. (Wewe)

foto memang mampu berbicara banyak hal



Persiapan dan castingnya sangat baik dan proper, dialognya bisa enjoy untuk didengar dan dicerna sehingga membuat pementasannya enjoy utnuk ditonton, untuk saya pribadi, untuk segi pemilihan tema saya memang sangat suka dengan salah satu tema tentang pemberantasan korupsi dan sebagainya (Samuel Rizal, Artis).
Fabulous! kawan-kawan di pementasan berhasil menyajikannya dengan sangat apik dan memberi kesan bahwa hidup kita ini adalah sandiwara nyata dimana setiap orang adalah peran utamanya (0856---)
Bagus, tapi maaf ceritanya mungkin terllau berputar-putar maaf ya , tapi keseluruhan sudah bagus. (0833---)
Top dech pokonya (0898---)
Plotnya cukup terbnagun, tapi beberapa peran pembantu masih kaku dan kurang natural seperti masih menghapal, Cuma segitu maklum ga nonton sampe beres (0812---)
Ok, sangat bagus alangkah baiknya kalau dibuat film, akan sangat bermanfaat bagi guru sebagai media pembelajaran. (0817---)
Tema yang mengangkat masalah korupsi yang sudah mengkristal, bahkan sulit ditumpas sangat menarik bagi saya, ini merupakan gambaran negatif bagi kita semua tentang keadaan negara. Mengenai tampilan pementasan, mimik pelaku dll saya angkat jempol, saya belajar banyak hal ketika melihat pementasan tersebut khususnya mengenai teater, pokonya saluut deh moga sukses (0813---)
Pertunjukan teater Ladang Perminus menurut nsaya sudah hampir sempurna. Saya harap cerita dalam pertunjukannya lebih diperjelas. Thank’s. Semoga sukses (0852---)
Pementasan yang diselenggarakan ini sangat menarik dan menambah pengetahuan kita di bidang korupsi. Ditambah dengan akting orang-orang yang memerankannya, membuat ceritanya seperti sungguhan. Saya merasa senang telah diundang menonton Ladang Perminus. (0898---)
Mestinya pementasan ini dipertunjukkan di depan wakil rakyat... ada bagian-bagian yang ga jelas maksudnya (pramugari lagi ngobrol) tapi secara keseluruhan menarik banget buat ditonton (0812---)
Bagus, cukup menyentuh untuk berkaca diri dalam pembelajaran tentang kepribadian yang jujur dan bertanggung jawab untuk generasi penerus bangsa yang bersih dan bertransparansi dalam mengaudit keuangan negara, alangkah baiknyalagi acara seperti ini jangan hanya satu departemen saja. Terima kasih. (Renja, smkn 2 jakarta)
Agak monoton pas pergantian latar tempatnya (0857---)
Owh, mpentasnya keren abiez.. ini bisa dijadikan contoh buat anak-anak muda sekarang (0898---)
Pementasannya bagus, tapi saya kurang paham endingnya. Kenapa Kahar itu harus dimakankan di taman makam pahlawan? Apa karena dimakamkan di sana bisa disebut seorang pahlawan? (0229294---)
Bagus. Penghayatan maksimal. Karakter tokoh sesuai. Tetapi pengantar alur terlalu panjang, beberapa bloking membelakangi penonton sangat mengganggu (0815---)
Aktor, aktris bermain total. Skenario ok banget. Tata lampu panggung hebat! Kalo durasi persingkat tanpa mengurangi inti cerita akan lebih ok (0812---)
Perlu ada tambahan adegan agar amanat yang diusung mengalir dan terjaga, terutama penonton awam yang terbiasa disuguhi menu sinetron. (0852---)
Bagus. Saya kagum dengan pementasan malam itu. Pemain sangat menjiwai. Kostum pemain sangat pas. Tata ruang/setting sesuai adegan. (08152---)
Menurut Wy teaternya tuh bagus banget ngasih pesannya tuh bagus, udah gitu aneh aja gitu seorang koruptor bisa jadi pahlawan. Si Bapak Hidayatnya itu meskipun berperilaku baik tapi mempunyai simpanan gitu, jadi ngebuat si penonton tuh aneh gitu! Kahar pahlawan yang jasanya itu entah di mana tapi jadi pahlawan. (0857---)
Keren! Serius, sarat pesan. Saya yakin proses adaptasinya dan latihan memakan waktu lama. Tokoh Hidayat dan Kahar yang sangat menarik membuat cerita sangat hidup. Sukses dan hebat! (Tanti SMA 8)
Bagus dan mendidik. Pemeranan juga sudah cukup pas. (Decky, SMA 19 Bandung)
Bagus tapi kurang jelas waktu akhir ceritanya. (0856---)
Bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan bahwa kita dilarang melakukan perbuatan korupsi sekecil apapun. (0852---)
Sebuah pementasan yang membukakan kesadaran atas bobroknya pejabat, kegamangan manusia jujur yang diming-imingi upeti, dan perjuangan untuk tetap bekerja idealis dan bermoral. (0852---)
Bagus, menarik tepat ditonton oleh generasi penerus. Mudah-mudahan melalui pementasan teater itu generasi muda lebih tergugah nuraninya untuk di kemudian hari bila menjadi orang yang punya wewenang tidak menyalahgunakannya sebab cepat/lambat akan berending tragis. (0852---)
Teaternya cukup menarik. Semuanya dilakukan dengan sangat rapi. Tapi tempatnya kurang nyaman sehingga suara dari luar ruangan mengganggu konsentrasi untuk menyimak teater itu. (0898---)
Bagus, sangat baik untuk dijadikan mediator penyampaian penyuluhan budaya korupsi pada cikal bakal para calon pemimpin bangsa, namun menurut saya peran yang disajikan masih cukup kasar bagi pemikiran seorang pelajar, sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran tertentu untuk mencerna apa yang akan disampaikan pada pementasan teater itu sendiri sebagai mediator penyuluhan budaya korupsi. (0857---)
Ladang Perminus sangat top dan diacungi jempol karena berkat itu kita sadar akan kekayaan alam yang kita punya selama ini jadi incaran para koruptor. (0881---)
Asyik, segar. Semula kupikir bakal bete, gak taunya betah sampe selese. Apalagi musik ok! (0811---)
Pementasannya bagus. Walaupun temanya serius tapi tetap bisa disampaikan dengan menghibur. Cuma untuk pola pergantian settingnya mungkin bisa diberikan beberapa variasi supaya tidak kesannya terlalu teknis mengingat banyaknya pergantian setting. (Wewe)

foto memang mampu berbicara banyak hal



penat jadinya
hmmmmm,,,,,, walau beberapa hari yang lalu, tepatnya telah berjalan seminggu intens menjalin komunikasi dengan seseorang namun saat ini merasa senyap semuanya. Apa sebab karena terlampau sensitif??? Hanya aku bercerita tentang suatu hal dan begitu dingin tanggapannya.
Sejujurnya aku mulai merindu, dan mulai menggebu, namun harus senyap dan menjadi sungguh bingung dalam seketika. Apa selanjutnya? Padahal hari-hari ini aku sudah muali menceriakan diri kembali
hmmmmm,,,,,, walau beberapa hari yang lalu, tepatnya telah berjalan seminggu intens menjalin komunikasi dengan seseorang namun saat ini merasa senyap semuanya. Apa sebab karena terlampau sensitif??? Hanya aku bercerita tentang suatu hal dan begitu dingin tanggapannya.
Sejujurnya aku mulai merindu, dan mulai menggebu, namun harus senyap dan menjadi sungguh bingung dalam seketika. Apa selanjutnya? Padahal hari-hari ini aku sudah muali menceriakan diri kembali
Monday, August 17, 2009
cepat berlalu





Sejak kedatangan di bulan mei, kami banyak melewatkan kegiatan bersama dalam rangkaian pementasan, berikut proses tentunya. Saat ini telah tiba untuk kembali melanjutkan semua rencananya. Inilah saat yang akhir, ketika kami berfoto bersama, sengaja hanya untuk sebuah kenangan bersama. Semoga pertemanan ini tak henti dan terus terjalin dengan baik. Semoga di pentas berikutnya kami semua masih dapat berkolaborasi.
Sekedar perjamuan sederhana yang kami lakukan, antara grandma, mom, and daughter. Keakraban yang lebih terjalin baik justru di akhir waktu.
Sejak kedatangan di bulan mei, kami banyak melewatkan kegiatan bersama dalam rangkaian pementasan, berikut proses tentunya. Saat ini telah tiba untuk kembali melanjutkan semua rencananya. Inilah saat yang akhir, ketika kami berfoto bersama, sengaja hanya untuk sebuah kenangan bersama. Semoga pertemanan ini tak henti dan terus terjalin dengan baik. Semoga di pentas berikutnya kami semua masih dapat berkolaborasi.
Sekedar perjamuan sederhana yang kami lakukan, antara grandma, mom, and daughter. Keakraban yang lebih terjalin baik justru di akhir waktu.
Subscribe to:
Posts (Atom)





